Dalam upaya memperkuat kualitas tata kelola perguruan tinggi, pengembangan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), serta peningkatan budaya riset dan inovasi, Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITS NU) Lampung melaksanakan kegiatan Kunjungan dan Benchmarking ke Universitas Teknokrat Indonesia. Kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat, akademis, dan penuh semangat kolaboratif ini menjadi momentum penting dalam membangun jejaring kelembagaan sekaligus memperkaya wawasan pengelolaan perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing.

Kunjungan tersebut dihadiri oleh Wakil Rektor I, yakni Bapak Dr. Sunarto, M.Pd.I, Ibu Desi Nurhabibah selaku KaBiro Keuangan, Ibu Liranti Rahmelina, M. P.T selaku ketua program studi Teknik Komputer, Ibu Maisaroh, M.T.I selaku Program Studi Teknologi Informasi, Ibu Yunita Widia Putri, M.Pd selaku Ketua Prodi Matematika, Ibu Suci Amalia, S.P., M.P selaku Ketua Prodi Pendidikan Vokasional Agribisnis, dan Ibu Tisar Dewi Pratiwi, M.Sc selaku Ketua Program Studi Fisika, serta Bapak Irfan Azhari, M.E Selaku Stah Ahli Kerja sama dari ITS NU Lampung yang disambut secara langsung oleh jajaran Pimpinan Universitas Teknokrat Indonesia beserta tim civitas akademika dan pengelola berbagai unit strategis kampus. Kehadiran kedua institusi ini menjadi simbol komitmen bersama dalam membangun pendidikan tinggi yang berkualitas, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.


Rangkaian kegiatan diawali dengan seremoni penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara ITS NU Lampung dan Universitas Teknokrat Indonesia yang diwakili Bapak Wakil Rektor I, Dr. Sunarto, M.Pd. I dan Wakil Rektor Dr. H. Mahathir Muhammad, SE., MM. Penandatanganan dokumen kerja sama tersebut menjadi tonggak awal dalam membangun sinergi yang lebih erat pada bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, serta implementasi berbagai program strategis perguruan tinggi.
Kerja sama ini diharapkan mampu membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, pertukaran pengalaman akademik, peningkatan kapasitas dosen dan mahasiswa, pengembangan kurikulum, serta berbagai kegiatan inovatif yang mendukung peningkatan mutu institusi.


Momen penandatanganan MoU berlangsung dengan penuh semangat kebersamaan, disaksikan oleh pimpinan dan sivitas akademika kedua perguruan tinggi. Kegiatan tersebut menegaskan bahwa kemajuan perguruan tinggi tidak dapat dicapai secara individual, melainkan melalui kolaborasi, pertukaran pengetahuan, dan kemitraan yang berkelanjutan.
Sebagai bentuk penghormatan dan simbol persahabatan antar institusi, kedua perguruan tinggi juga melaksanakan prosesi pertukaran cendera mata. Momen ini tidak hanya menjadi bagian dari seremonial kegiatan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, penghargaan, dan komitmen untuk terus menjalin hubungan yang harmonis dalam pengembangan pendidikan tinggi.
Pertukaran cendera mata menjadi representasi semangat saling belajar dan saling mendukung dalam mewujudkan kampus yang unggul, inovatif, dan berkontribusi bagi pembangunan daerah maupun nasional.

Dalam sesi diskusi pengembangan Kurikulum Berbasis Outcome Based Education (OBE), salah satu tim ITS NU Lampung yaitu Ibu Liranti Rahmelina, M.Pd.T secara aktif menggali berbagai aspek fundamental dalam penyusunan kurikulum yang berorientasi pada capaian pembelajaran. Salah satu pertanyaan yang menjadi fokus diskusi disampaikan oleh tim akademik ITS NU Lampung terkait tahapan awal penyusunan kurikulum OBE, khususnya mengenai proses penentuan Profil Lulusan (PL) hingga perumusan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK). Tim ITS NU Lampung menanyakan bagaimana langkah-langkah sistematis yang perlu dilakukan oleh program studi agar profil lulusan yang ditetapkan benar-benar relevan dengan kebutuhan dunia kerja, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta harapan para pemangku kepentingan.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Ibu Dyah Ayu Megawaty, S.Kom., M.Kom. tim Universitas Teknokrat Indonesia menjelaskan bahwa penyusunan kurikulum OBE harus diawali dengan analisis yang komprehensif terhadap visi dan misi program studi, kebutuhan pengguna lulusan (stakeholders), perkembangan bidang keilmuan, serta tuntutan dunia usaha dan dunia industri. Hasil analisis tersebut kemudian menjadi dasar dalam merumuskan Profil Lulusan (PL) yang menggambarkan peran dan kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh lulusan beberapa tahun setelah menyelesaikan studinya.
Selanjutnya, Profil Lulusan yang telah ditetapkan diterjemahkan ke dalam Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang mencakup aspek sikap, pengetahuan, keterampilan umum, dan keterampilan khusus sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti). CPL tersebut kemudian dipetakan ke dalam bahan kajian dan struktur kurikulum untuk memastikan bahwa setiap mata kuliah memiliki kontribusi yang jelas terhadap pencapaian kompetensi lulusan yang telah ditetapkan oleh program studi.
Lebih lanjut, tim Universitas Ibu Dyah Ayu Megawaty, S.Kom., M.Kom. menjelaskan bahwa dari CPL yang telah dirumuskan, program studi dapat menyusun Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) sebagai turunan yang lebih spesifik dan terukur pada setiap mata kuliah. CPMK inilah yang kemudian menjadi dasar dalam penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS), strategi pembelajaran, metode asesmen, serta evaluasi pembelajaran. Dengan pendekatan tersebut, seluruh proses pendidikan dapat berjalan secara terstruktur, terukur, dan selaras dengan tujuan utama OBE, yaitu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dunia kerja, dan perkembangan teknologi masa depan.

Selain membahas pengembangan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), kegiatan benchmarking ini juga menjadi forum strategis untuk memperdalam pemahaman mengenai penguatan budaya riset dan inovasi di lingkungan perguruan tinggi. Dalam sesi diskusi tersebut, tim Universitas Teknokrat Indonesia memaparkan berbagai pengalaman dan praktik baik terkait penyusunan roadmap penelitian institusi, penetapan fokus riset unggulan, pengelolaan kelompok riset, hingga strategi peningkatan publikasi ilmiah yang berkelanjutan dan berdampak bagi masyarakat. Paparan tersebut memberikan gambaran mengenai pentingnya sinergi antara visi institusi, kompetensi dosen, serta kebutuhan masyarakat dan industri dalam membangun ekosistem penelitian yang produktif.

Dalam sesi tanya jawab, tim ITS NU Lampung yakni Ibu Yunita Widia Putri, M.Pd. secara khusus mengajukan pertanyaan mengenai langkah awal yang perlu dilakukan dalam menentukan fokus riset institusi agar dapat menjadi arah dan pedoman bagi dosen dalam menyusun roadmap penelitian masing-masing. Menanggapi hal tersebut, Bapak Aditia Yudhistira, S.Kom., M.Kom. Dosen Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Teknokrat Indonesia menjelaskan bahwa penetapan fokus riset sebaiknya diawali dengan analisis visi dan misi institusi, identifikasi potensi sumber daya yang dimiliki, pemetaan kompetensi dosen, kebutuhan pembangunan daerah, serta tren perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasil analisis tersebut kemudian dirumuskan menjadi fokus riset unggulan institusi yang selanjutnya diterjemahkan ke dalam roadmap penelitian universitas, fakultas, program studi, hingga roadmap penelitian dosen secara individual. Dengan pendekatan tersebut, arah penelitian dosen menjadi lebih terstruktur, terukur, dan selaras dengan tujuan strategis institusi.
Topik lain yang mendapat perhatian besar dari peserta adalah pengelolaan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan paten sebagai bagian dari luaran penelitian yang bernilai strategis. Tim ITS NU Lampung mempertanyakan berbagai kiat dan langkah yang dapat dilakukan perguruan tinggi untuk meningkatkan jumlah HKI dan paten yang dihasilkan oleh dosen maupun mahasiswa. Menanggapi hal tersebut, tim Universitas Teknokrat Indonesia menjelaskan bahwa peningkatan HKI dan paten memerlukan pembangunan budaya inovasi yang kuat, dimulai dari pemilihan topik penelitian yang memiliki unsur kebaruan (novelty), potensi penerapan teknologi, serta peluang untuk dikembangkan menjadi produk atau solusi yang bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, institusi perlu memberikan pendampingan, pelatihan, serta dukungan administratif dalam proses pendaftaran HKI dan paten agar hasil penelitian tidak hanya berakhir pada publikasi ilmiah, tetapi juga memperoleh perlindungan hukum dan memiliki nilai tambah yang lebih luas.
Melalui diskusi yang berlangsung secara interaktif dan konstruktif tersebut, ITS NU Lampung memperoleh berbagai wawasan strategis mengenai pengembangan budaya riset, penetapan fokus riset institusi, penyusunan roadmap penelitian dosen, serta strategi peningkatan HKI dan paten. Berbagai pengalaman dan praktik baik yang dibagikan oleh Universitas Teknokrat Indonesia diharapkan dapat menjadi referensi dalam merumuskan kebijakan pengembangan penelitian dan inovasi di ITS NU Lampung, sehingga mampu mendorong terciptanya budaya akademik yang produktif, inovatif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas serta daya saing institusi secara berkelanjutan.

